Overclocking Review: Team Elite Plus DDR4-2400 CL16 8GB Kit (2x4GB)

Ruang Lingkup Pengujian

Menguji perangkat memori melibatkan cukup banyak variabel, mulai dari frekuensi,timing, kompatibilitas, dan lain sebagainya. Namun, fokus dari pengujian memori yang dilakukan oleh JagatOC adalah :

  1. Performa XMP dari memori yang disertakan produsen pada berbagai aplikasi
  2. Sedikit uji OC/tweaking

Perlu diingat juga bahwa overclockability dari sebuah modul memori tidak hanya ditentukan oleh kapabilitas modul memori nya saja, dan kadang bergantung pada:

Kualitas IMC (Integrated memory controller) yang ada pada suatu CPU tertentu, yang kadang berbeda
Kompatibilitas suatu memori terhadap tipe Motherboard tertentu Jadi, tingkat overclocking yang kami dapat pada setiap pengujian kami bisa jadi berbeda dengan apa yang Anda dapatkan karena variabel-variabel yang kami sebut diatas.

Berikut ini platform yang digunakan untuk pengujian DDR4 di Platform Skylake:

  • Prosesor: Intel Core i7-6700K
  • Motherboard: MSIZ170A XPOWER GAMING TITANIUM EDITION
  • VGA: GeForce GT 630 2GB
  • SSD: Kingston HyperX 3K 120GB
  • PSU: Corsair AX 850 Watt
  • CPU Cooler: Stock HSF dari Pentium G3258
  • OS: Windows 7 x64 SP1 Ultimate

Setting CPU

Kami mematikan semua fitur power saving pada CPU dan juga OS untuk menjaga hasil kami agar tetap konstan. Prosesor Core i7-6700K ditetapkan pada speed 4000 Mhz, dan Ring Frequency ke 4000 Mhz, sehingga hasil kami tidak terlalu berbeda jauh dengan hasil user biasa yang menjalankan sistemnya pada keadaan default. Sebagian besar voltage yang kami gunakan pada pengujian adalah voltage AUTO atau default.

Untuk voltase memori, jika ada XMP, kami menggunakan VDimm dari XMP, jika tidak ada XMP maka kami akan menggunakan voltage yang tertera pada spesifikasi produk. Pada akhirnya, kami juga menyertakan performa RAM DDR4-2133 CL 15-15-15-36 2T 2x4GB (single rank/single-sided) Dual Channel sebagai baseline performance di platform Z170 untuk perbandingan, karena sebagian user akan menggunakan konfigurasi tersebut pada keadaan default.

Berikut ini setting kami seperti yang dibaca CPU-Z:

Performance Test

Aplikasi AIDA64 (dahulu bernama Everest) sangat popular di kalangan tester/reviewer untuk menguji performa memori mereka, ini disebabkan karena aplikasi tersebut memang sangat dipengaruhi performa subsistem memori, antara lain frekuensi kerja memori, frekuensi memory controller pada sistem, dan juga latency dari memori yang digunakan.

 

3DMark11 merupakan sebuah 3D Benchmark berbasiskan API DirectX 11. Ada beberapa skor yang diberikan oleh benchmark ini, mulai dari Graphics Score, Physics Score dan Combined Score. 3DMark 11 Physics Score merupakan hasil dari pengukuran 3Dmark11 akan kecepatan CPU dan RAM dalam memproses simulasi perhitungan physics dengan Bullet Open Source Physics Library. Bandwidth memori yang tinggi akan membantu pencapaian skor lebih besar. Pengujian ini hampir tidak dipengaruhi oleh GPU.

Intel XTU(Extreme Tuning Utility) adalah sebuah aplikasi gratis yang dikembangkan Intel untuk melakukan tuning berbagai parameter dalam sistem. Namun, Intel juga menyediakan sebuah benchmark dalam software XTU, berbasiskan algoritma Prime seperti yang ditemui pada program Prime95. Benchmark ini akan menunjukkan angka yang semakin besar ketika CPU dan Memori yang digunakan berkinerja tinggi.

Geekbench 3 adalah sebuah benchmark sintetis yang bertujuan menguji performa prosesor dalam skenario single-core dan juga multi-core. Ada juga salah satu bagian benchmark ini yang menguji performa memori, dan memori yang berkinerja tinggi memberikan poin lebih besar.

Peningkatan kinerja yang terjadi karena setting di DDR4-2400 tidak terlalu tinggi. Team Elite DDR4 memiliki performa mirip dengan DDR4 standar yang berjalan pada DDR4-2133Mhz.

Overclocking

Menguji kemampuan overclocking RAM kelas Value memang menarik, karena bisa jadi sebuah RAM murah memiliki kemampuan sama dengan RAM yang lebih mahal, selama setting-nya benar. kami mencoba mendapatkan konfigurasi overclocking yang stabil digunakan dalam keadaan harian, dan menggunakan software penguji kestabilan HCI MemTest yang terkenal ‘kejam’ (Anda bisa membaca mengenai macam-macam software uji kestabilan di sini). Tentu kami meneraopkan beberapa batasan seperti VDimm maksimal di 1.35V, dan BCLK 100Mhz.

Dan ternyata, RAM ini bisa stabil dalam keadaan DDR4-3000!

Ya, di luar dugaan, RAM murah ini dapat menjalankan uji kestabilan HCI MemTest pada kecepatan DDR4-3000, jauh dari keadaan defaultnya.

Kesimpulan

Berbagai overclocker yang hendak mencari RAM beperforma besar nampaknya akan kaget dengan RAM yang satu ini. Team Elite Plus DDR4-2400 adalah salah satu DDR4 2x4GB termurah yang ada di pasaran saat artikel ini dirilis ini, dan bahkan tidak memiliki profil XMP. Performa RAM ini dalam rating default-nya tidak terlalu istimewa, namun saat di-overclock ke DDR4-3000, performanya akan bisa mendekati berbagai RAM DDR4 kelas high-end yang memiliki harga 20% lebih mahal. (Setting untuk DDR4-3000 dapat Anda temukan di halaman 3)

Kami perlu menambahkan bahwa secara fisik RAM ini nampak tidak disiapkan untuk overclocking, karena ‘pendingin’ yang disertakan hanya sebuah pelat aluminium tipis, namun harusnya cukup untuk menjaga suhu operasi pada DRAM Voltage 1.35V. Kecuali ada airflow yang berhembus di sekitar RAM, kami menyarankan Anda untuk menggunakan tegangan 1.35V dan tidak melebihi batas ini. Kami sempat menguji RAM di setting DDR4-3200 pada VDimm 1.45V namun tidak lolos uji HCI MemTest, tapi setidaknya masih bisa menjalankan beberapa benchmark.

Akhir kata, untuk RAM DDR4 seharga kurang dari 900 ribu Rupiah saat artikel ini dirilis (Dengan 1 USD = 13500 IDR), Team Elite menunjukkan potensi performa tinggi, selama Anda mau melakukan setting manual dari semua timing-nya, dan juga setting beberapa voltase tambahan.

sumber: JagatOC